Pagi itu aku bersiap untuk menapakan kaki di awal sekolahku
ditingkat SMA, beberapa orang melihatku agak sedikit aneh karena saat itu aku
diantar dengan motor oleh ibuku, itu adalah motor sepeninggalan ayahku sebelum tragedi
kecelakaan yang merenggut nyawanya pada saat aku masih 1 tahun, jujur saat itu
agak sedikit malu karena pakaian ibuku yang sedikit agak compang-camping,
maklumlah aku terlahir dari keluarga petani yang hanya memiliki tanah yang
kurang dari 10 x 10 meter, aku anak tunggal, beruntung aku bisa masuk sekolah
sini karena beasiswa dari sekolahku terdahulu. Aku agak sedikit minder ketika
calon siswa lain diantar oleh kedua orang tuanya dengan menggunakan mobil yang
bagus, ya mungkin karena ini sekolah favorit di kotaku, jadi ada gengsi
tersendiri dari mereka jika tidak menunjukan kelas ekonominya masing-masing.
“Nak ini bekalmu untuk siang nanti” ucap ibuku sambil mencium
keningku.
Fisik ibuku tidak sesempurna orang normal pada umumnya, mata
kirinya yang dibalut dengan kapas seukuran 10 centi itu selalu menghiasi
wajahnya yang mulai keriput, ia tak pernah sekali pun menceritakan kejadian apa
yang pernah dialaminya hingga ia mendapatkan sebuah luka yang permanen itu.
“Hey... ibumu itu buta ya..!!!” ejek
salah seorang dari siswa senior yang turun dari mobil, aku sangat malu pada
saat itu, aku langsung menarik bekalku dan langsung meninggalkan ibuku tanpa
menyalaminya dan tanpa sepatah katapun.
Hari-haripun
berlanjut, setiap hari aku diantar oleh ibuku dengan motor ini, setiap hari
pula orang-orang kaya yang sombong itu juga meledek ibuku, aku juga tak
memiliki teman, mereka tidak ada yang mau menemaniku karena aku tak memiliki
uang sebanyak yang mereka punya.
Suatu
hari ibuku yang sedang mengantarkanku kesekolah tiba-tiba tak sengaja menabrak
siswi yang sedang menyebrang, lantas siswi itu marah-marah “dasar orang tua buta..!!! kalo naek kendaraan liat-liat donk..
kalo udah gini kamu mau ganti rugi ???”. ”gimana
dia mau ngelihat? Toh matanya kan buta..!!! ” umpat temannya yang menolong
siswi itu. “maaf nak.. ibu gak sengaja..
sekali lagi ibu minta maaf ya...” mohon ibuku. “yaudah iya pergi sana.. ntar gue ketularan buta loh lagi”.
Perasaanku saat itupun sedang bercampur aduk, antar marah, benci, badmood, dan
kesal, yang lebih parahnya lagi setiap orang yang melihatku pasti mengejek
ibuku yang buta itu.
Saat
sampai dirumah aku marah pada ibuku, rasa marahku pun sangat menjadi-jadi,
sehingga aku membanting pintu dengan kerasnya, aku tak peduli apa kata ibuku
yang menyuruh ku untuk makan, yang aku pikirkan adalah aku harus cepat lulus
dari sekolah itu mendapatkan beasiswa ke Singapura untuk melanjutkan kuliahku.
Akhirnya
setelah 3 tahun aku menuntut ilmu di sekolah yang “kejam” itu, akupun berhasil
mendapatkan sebuah surat yang berisi beasiswa ke Singapura, rasa senang,
bangga, dan lega pun kini kurasakan, tiada lagi yang namanya ejekan dari teman
sekelasku, karna aku akan kuliah di Singapura dan melanjutkan hidupku disana
tanpa ada seorang yang selalu menghancurkan hari-hariku.
15
tahun berlalu, aku telah sukses di Singpura dan menikahi seorang gadis, ya
tepatnya ia adalah mantan sekertarisku yang kini kuangkat menjadi wakilku
sendiri, kami dianugerahi 2 orang anak yang sangat cantik. Tak sekalipun aku
berkirim surat pada ibuku, apalagi mengunjunginya.
Suatu
hari anakku mendengar suara dari pintu luar, ia pun bergegas membukakan pintu.
Lalu seorang wanita dengan fisik renta membawa sebilah bambu
sebagai tongkatnya, dan memiliki luka dimatanya, yang tak lain dan tak bukan
adalah ibuku sendiri yang telah lama tak kutemui. “cucuku... kau sudah
besar...” ungkap ibuku didalam hatinya.
“who are you? May I
help you?” tanya anakku.
“cu... bapakmu ada ?”
tanya ibuku
Lalu akupun menemui orang yang sedang bertamu kerumahku.
“siapa kau?” tanyaku.
“benar ini rumah Anton
nak?” tanya ibuku yang pura-pura tidak mengetahui itu adalah Anton anaknya.
“maaf nek, nenek salah
alamat, sebaiknya nenek pergi dari sini karena saya banyak urusan” tandasku.
“Yasudah nak, maaf
mengganggu, nenek pergi dulu, permisi” dengan perasaan sedih ibuku pun
meninggalkan rumahku.
Akupun
sempat berfikir darimana ibuku bisa tau alamat rumahku, tapi ahhsudahlah,
biarkan saja lagipula aku sudah muak melihatnya.
7 bulan
kemudian munculah ide reuni dari teman-teman angkatan SMP ku, akupun tidak
menyia-nyiakan kesempatanku untuk pulang kenegaraku, akupun terbang kekotaku
untuk menghadiri reuni itu, namun aku pergi hanya sendiri karena istriku masih
sibuk dengan urusan kantornya.
Ibuku
juga mengetahui bahwa aku akan pulang kedesa karena teman-teman SMP ku dulu
masih satu desa dengan ibuku, jadi ibuku dengan senang dan riangnya tidak
sengaja terjatuh saat akan berjalan kekamarnya, lantas ia pun hanya
menghabiskan hari-harinya di tempat tidur, ia sangat sedih karena tidak bisa
melihat anak kesayangannya itu kembali kedesana, lantas ibuku pun menulis
secarik surat yang diletakkan di atas pintu yang biasanya dipakai untuk
meletakkan kunci rumah pada saat ibuku pergi bekerja ke ladang dan aku belum
pulang sekolah.
2 bulan berlalu, dimulailah acara
reuniku, setelah acara itu akupun ingin berjalan-jalan mengelilingi desaku yang
telah lama kutinggalkan, tak sengaja aku melewati sebuah gubuk tua yang
mengingatkan aku pada sebuah kenangan masa kanak-kanakku, akupun menghampiri
gubuk tersebut dan terlihat tiada orang disana,
“kemana ibuku?” pikirku dalam hati, lantas secara reflek aku meraba
diatas pintu untuk mencari kunci seperti kebiasaan ku dulu, dan kutemukan
secarik kertas.
Lantas aku bertanya pada orang
yang lewat, dan aku kaget dengan jawaban orang tersebut bahwa ibuku telah
meninggal dunia sebulan lalu, aku hanya kaget tapi tidak menangis, langsung
saja kubuka surat tersebut yang isinya :
“wahai anakku Anton, Ibu bangga sama kamu
nak, walaupun kamu terlahir dari keluarga yang serba kekurangan ini, kamu mampu
menunjukan bahwa kita ini bisa sederajat dengan mereka yang mempunyai banyak harta,
ibu sangat bangga padamu.
Ibu sangat sedih ketika kamu mengusir ibu
pada saat dirumahmu di Singapura, mungkin karna kamu terlalu banyak kerjaan
jadi kamu tidak bisa ibu ganggu.
Ibu ingat kejadiaan pada waktu kamu masih 1
tahun, pada malam itu kamu, bapak dan ibu sedang pergi ke pasar malam untuk
menghiburmu, tapi saat itulah kecelakaan itu tak dapat dihindarkan, ayahmu
meninggal dunia, dan kamu kehilangan cahaya mata kirimu, pada saat itu, ibu tak
ingin satu-satunya harapan ibu di masa depan harus hilang, jadi ibu
berinisiatif untuk mencangkokkan mata kiri ibu untukmu.
maaf kalau ibu baru bilang
sekarang karena ibu tak ingin kau terus bersedih pada kejadian malam itu. Ibu
juga sanagt senang karna kamu udah memperlihatkan dunia baru melalui mata itu
untuk ibu.
salam dari Ibumu...”.
<Ryan Kim Kurniawan>